Pengumuman

Berita Fakultas

Berita Prodi

Join Us

Hand-Picked/Weekly News

The Most/Recent Articles

Peluang Studi S2 dan Karier Global

Kerja Sama INTENSE: Peluang Studi S2 dan Karier Global bagi Mahasiswa Dan Alumni Fakultas Ilmu Komputer

Pada Kamis, 11 Desember 2025, Subdirektorat Kerja Sama bersama Fakultas Ilmu Komputer menggelar rapat internal membahas tindak lanjut program INTENSE, sebuah inisiatif internasional yang membuka kesempatan studi lanjut dan karier profesional bagi mahasiswa maupun alumni. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Ilmu Komputer tersebut menghasilkan beberapa poin penting terkait mitra, beasiswa, serta sasaran peserta program.

Kemitraan Strategis dengan Dua Universitas Terbaik di Taiwan

Program INTENSE akan berkolaborasi dengan dua institusi pendidikan ternama di Taiwan, yakni:

  1. National Changhua University of Education (NCUE) — Program S2
  2. National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU) — Program S2

Kedua universitas ini dikenal memiliki reputasi kuat dalam bidang teknologi, pendidikan, dan riset, sehingga menjadi tempat ideal untuk pengembangan akademik maupun profesional mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer.

Beasiswa Penuh + Kesempatan Kerja 2 Tahun

Salah satu nilai utama dari program INTENSE adalah dukungan penuh dari pemerintah Taiwan yang mencakup:

  • Beasiswa penuh selama 2 tahun studi S2, dan
  • Keberlanjutan karier berupa 2 tahun bekerja di perusahaan mitra setelah lulus.

Model beasiswa seperti ini memberikan kombinasi optimal antara peningkatan kompetensi akademik dan pengalaman industri global—sebuah paket lengkap yang sangat kompetitif di dunia kerja modern.

Sasaran Peserta: Mahasiswa Tingkat Akhir & Alumni 5 Tahun Terakhir

Program ini dirancang untuk:

  • Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Komputer yang diperkirakan lulus maksimal pada fall session (sekitar Agustus 2026)
  • Alumni Fakultas Ilmu Komputer dalam kurun lima tahun terakhir

Secara khusus, program ini sangat relevan bagi lulusan:

  • Sistem Komputer
  • Sistem Informasi

Hal ini karena kedua program studi tersebut memenuhi standar minimal akreditasi yang disyaratkan oleh mitra dan penyelenggara beasiswa.

Kesimpulan: Peluang Emas untuk Karier Global

Kolaborasi antara Fakultas Ilmu Komputer dan program beasiswa INTENSE membuka peluang besar bagi mahasiswa dan alumni yang ingin melanjutkan studi di luar negeri sekaligus memperoleh pengalaman kerja internasional. Dengan dukungan beasiswa penuh dan peluang berkarier di perusahaan mitra Taiwan, program ini menjadi langkah strategis untuk membangun kompetensi global dan memperluas jaringan profesional.

Informasi lebih lanjut terkait pendaftaran, persyaratan, dan timeline akan diumumkan melalui kanal resmi Fakultas Ilmu Komputer.


Vibe Coding

Definisi vibe coding  itu menggambarkan evolusi terbaru dalam cara manusia berinteraksi dengan pemrograman, di mana “ngoding” bergeser dari menulis sintaks menjadi mendesain ide.


Apa Itu Vibe Coding?

Vibe Coding adalah pendekatan baru dalam pengembangan perangkat lunak yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) — khususnya Large Language Model (LLM) — untuk menghasilkan kode berdasarkan deskripsi bahasa alami (natural language).

Dengan vibe coding, pengguna tidak perlu menulis atau mengedit kode secara manual.
Sebaliknya, mereka menjelaskan apa yang ingin dibuat, lalu AI menulis kodenya.
Setelah itu, pengguna tinggal memberikan umpan balik (feedback) untuk iterasi berikutnya.

Tujuannya adalah agar proses pengembangan lebih cepat, intuitif, dan bisa diakses siapa saja — baik programmer berpengalaman maupun pemula tanpa latar belakang teknis.

Cara Kerja Vibe Coding

  1. Describe the project (Deskripsikan proyek)

    • Pengguna menjelaskan proyeknya seperti berbicara dengan manusia.

      Contoh: “Buatkan aplikasi login sederhana dengan autentikasi berbasis email dan password.”

  2. AI generates code (AI membuat kode)

    • LLM seperti GPT-5 atau Claude menghasilkan kode lengkap berdasarkan deskripsi itu.
    • Bisa berupa web app, script Python, API, atau komponen front-end.
  3. Test and evaluate (Uji hasilnya)

    • Pengguna menjalankan kode yang dihasilkan untuk melihat apakah sesuai dengan keinginan.
  4. Provide feedback (Berikan umpan balik)

    • Jika hasil belum sesuai, pengguna tinggal mengatakan:

      “Tambahkan validasi password” atau “ubah tampilannya jadi gelap.”

    • AI lalu memperbarui kode sesuai instruksi baru.

Karakteristik Utama

Aspek Penjelasan
Natural language prompts Pengguna berinteraksi dengan bahasa sehari-hari, bukan sintaks pemrograman.
AI-generated code LLM menerjemahkan deskripsi menjadi kode yang dapat dijalankan.
Iterative feedback loop Perbaikan dilakukan lewat umpan balik, bukan edit manual.
Focus on vision Fokus pada ide dan hasil akhir, bukan detail teknis.

Manfaat Utama

Manfaat Penjelasan
Accessibility Membuka pintu bagi siapa pun untuk membangun aplikasi tanpa harus belajar bahasa pemrograman.
Speed Waktu pengembangan jauh lebih cepat, cocok untuk prototyping.
Creativity Membebaskan pengguna untuk berfokus pada ide, desain, dan fungsi unik.
Efficiency Developer berpengalaman bisa mendelegasikan coding rutin ke AI, fokus ke logika bisnis atau arsitektur.

Analogi Sederhana

Kalau traditional coding itu seperti membangun rumah sendiri batu demi batu,
maka vibe coding itu seperti mengomandoi tim arsitek digital (AI) dengan kalimat seperti:
“Saya ingin rumah modern, dua lantai, dengan jendela besar dan taman di belakang.”

Masa Depan Vibe Coding

Vibe coding menandai pergeseran paradigma dari “menulis kode” ke “mengorkestrasi ide dengan AI”.
Ke depannya, kombinasi LLM + tool dev otomatis (seperti Replit Ghostwriter, GitHub Copilot Workspace, dan ChatGPT Code Canvas) akan menjadikan vibe coding sebagai cara utama membangun software generasi baru.


KEGIATAN PBI 2025

“Penguatan Digital Skill untuk Menghadapi Persaingan di Masa Depan”

Halo Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Narotama 👋🏻

Saatnya mempersiapkan diri menghadapi era digital yang semakin kompetitif!
Fakultas Ilmu Komputer dengan bangga membuka pendaftaran Pengkaderan Bidang Ilmu (PBI) 2025 dengan tema:

“Penguatan Digital Skill untuk Menghadapi Persaingan di Masa Depan.”

Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk membangun karakter, memperkuat kompetensi digital, dan menumbuhkan semangat profesionalisme bagi seluruh mahasiswa.

🧭 Siapa yang Wajib Mengikuti?

Seluruh mahasiswa Angkatan 2025 dari program studi:

  • Sistem Informasi
  • Sistem Komputer
  • Teknik Informatika
    serta angkatan sebelumnya yang belum mengikuti PBI.

🗓️ Jadwal Penting

  • Periode Pendaftaran: 31 Oktober – 5 November 2025
  • Technical Meeting: 7 November 2025 (Online via Zoom Meeting)
  • Pelaksanaan Kegiatan: 15–16 November 2025 (Offline di Universitas Narotama)

📝 Pendaftaran

Daftar sekarang melalui tautan berikut:
👉 forms.gle/4k3S2xXvdF99cWpL6

💳 Biaya Pendaftaran

HTM: Rp 260.000
Pembayaran melalui:
DANA – Rina Nur Aminah (0881-0262-71836)

Setelah melakukan pembayaran, segera lakukan konfirmasi ke:
📩 Rina Nur Aminah: 0881-0262-71836

📞 Kontak Pendaftaran

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
📱 Fitri: 0856-0723-0947

Pendaftaran Ditutup pada 5 November 2025!

Jangan lewatkan kesempatan ini untuk membangun potensi dan menjadi bagian dari generasi profesional masa depan.
Mari wujudkan semangat inovatif dan kesiapan menghadapi dunia digital melalui PBI 2025!


Perusahaan Bernilai $30 Miliar yang Dikelola oleh 30 Orang

Telegram: Perusahaan Bernilai $30 Miliar yang Dikelola oleh 30 Orang

Bayangkan sebuah perusahaan bernilai lebih dari 30 miliar dolar AS, melayani hampir satu miliar pengguna di seluruh dunia, namun dijalankan oleh tim kecil yang tidak sampai satu bus.
Tidak punya kantor tetap, tidak ada struktur manajerial kompleks, dan bekerja sepenuhnya jarak jauh.
Itulah Telegram, salah satu perusahaan teknologi paling misterius dan efisien di dunia.

Dari VKontakte ke Telegram

Kisah Telegram bermula pada 2013, ketika Pavel Durov, pendiri jejaring sosial VKontakte (VK), hengkang dari Rusia setelah berselisih dengan pemerintah mengenai kebebasan data pengguna.
Bersama saudaranya, Nikolai Durov, ia meluncurkan Telegram dengan visi menciptakan platform perpesanan yang aman, cepat, dan bebas sensor — sebuah perlawanan terhadap sentralisasi kendali digital oleh pemerintah dan korporasi besar[1].

Dalam waktu singkat, Telegram tumbuh menjadi simbol kebebasan berkomunikasi global, menarik pengguna dari berbagai negara yang menginginkan privasi sejati.

Struktur Organisasi yang “Anti-Korporat”

Telegram dioperasikan dengan cara yang nyaris bertolak belakang dari perusahaan teknologi raksasa lainnya.
Menurut laporan Times of India dan ChainCatcher, tim Telegram hanya terdiri dari 30–50 orang, dengan sekitar 30 insinyur inti yang direkrut melalui kompetisi pemrograman, bukan wawancara formal[2][3].

Tidak ada HR, tidak ada manajer proyek konvensional, dan tidak ada kantor pusat.
Semua tim bekerja secara remote di berbagai negara, dengan tanggung jawab yang sepenuhnya berbasis kepercayaan dan hasil.

Struktur Telegram berdiri di atas tiga prinsip utama yang sering diulang oleh Durov:

  1. Kepercayaan, bukan pengawasan.
  2. Otomatisasi, bukan birokrasi.
  3. Kualitas individu, bukan ukuran organisasi.

Teknologi yang Menopang Satu Miliar Pengguna

Telegram menangani ratusan juta hingga miliaran pesan setiap hari, meski angka resmi tidak pernah dipublikasikan.
Dengan infrastruktur pusat data terdistribusi di berbagai wilayah, Telegram mampu menjaga kecepatan dan privasi tinggi, bahkan saat meluncurkan fitur-fitur besar seperti:

  • Channel (saluran publik) untuk siaran global,
  • Stories,
  • Telegram Premium, dan
  • Integrasi dengan cryptocurrency melalui TON Blockchain.

Model kerja Telegram sangat bergantung pada otomatisasi dan infrastruktur modular, memungkinkan tim kecil untuk menangani skala global tanpa kehilangan efisiensi.

Valuasi dan Skala yang Sulit Dipercaya

Pada 2024, Telegram dilaporkan memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif bulanan[4], dan valuasinya disebut mencapai lebih dari 30 miliar dolar AS[5].
Pavel Durov bahkan menyatakan bahwa Telegram kini menghasilkan ratusan juta dolar per tahun dan menargetkan profitabilitas penuh pada 2025[6].

Menariknya, hingga kini Telegram masih mempertahankan prinsip tanpa iklan invasif. Monetisasi dilakukan melalui langganan Premium dan sistem iklan ringan yang hanya tampil di saluran publik besar, tanpa melacak perilaku pengguna.

Paradoks Efisiensi

Telegram adalah paradoks di era digital:
sebuah perusahaan dengan tim kecil, biaya operasional minim, namun memiliki pengaruh global yang menyaingi raksasa seperti Meta atau Google.

Dalam dunia startup yang sering mengukur kesuksesan dari jumlah karyawan atau dana investasi, Telegram justru membuktikan bahwa visi yang jelas, kepercayaan penuh, dan struktur minimalis bisa menciptakan kekuatan luar biasa.

Telegram bukan sekadar aplikasi pesan, melainkan eksperimen sosial dan teknologi yang menantang cara kita memandang organisasi modern.

Kesimpulan

Dari apartemen sederhana tempat Pavel Durov merancang konsep awalnya, Telegram kini telah menjadi jaringan komunikasi global yang digunakan oleh seperdelapan populasi dunia.
Ia membuktikan bahwa masa depan bisnis digital mungkin tidak bergantung pada jumlah pegawai, melainkan pada otonomi, efisiensi, dan ide besar yang dipegang teguh.

Di tengah hiruk pikuk dunia startup yang penuh hirarki dan birokrasi, Telegram berdiri sebagai pengecualian langka:
perusahaan tanpa kantor, tanpa batas, dan tanpa kompromi terhadap prinsip.

Referensi

[1]: “How Telegram built a $30 billion empire with just 30 employees”Times of India, Maret 2024.
https://timesofindia.indiatimes.com/technology/tech-news/how-telegram-built-a-30-billion-empire-with-just-30-employees/articleshow/120307378.cms

[2]: ChainCatcher Report: Inside Telegram’s minimalist engineering team (2024).
https://www.chaincatcher.com/en/article/2141062

[3]: Interview: Pavel Durov on Telegram’s future profitabilityPressam.com, Maret 2024.
https://pressam.com/2024/03/11/telegram-surpasses-900-million-active-users-as-founder-anticipates-profitability-this-year-says-pavel-durov-in-exclusive-interview/

[4]: Pivot.uz — Telegram surpasses 1 billion users, April 2024.
https://pivot.uz/telegram-surpasses-1-billion-active-users-pavel-durov/

[5]: ITC.ua — Telegram valued at over $30 billion, 2024.
https://itc.ua/en/news/telegram-has-900-million-users-earns-hundreds-of-millions-of-dollars-and-is-valued-at-over-30-billion-pavel-durov/

[6]: Forbes Europe Interview with Pavel Durov (2024).
https://www.forbes.com/europe/telegram-founder-interview

Tag: #Telegram #PavelDurov #StartupCulture #RemoteWork #TechLeadership #DigitalFreedom #FBLifestyle

Telegram app logo is seen in this illustration taken, August 27, 2024. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Ini Pertanyaan Interview Kerja Paling Sering Ditanyakan

Panduan Singkat untuk Sarjana Komputer

Kamu baru lulus dari jurusan Teknik Informatika, Sistem Informasi, atau Ilmu Komputer?
Mungkin sekarang kamu sedang bersiap menghadapi dunia kerja — mulai dari update CV, kirim lamaran, sampai tahap paling menegangkan: interview.

Sesi wawancara bukan hanya menguji kemampuan teknis seperti coding atau analisis sistem, tetapi juga cara berpikir, komunikasi, dan kepribadian profesional.
Agar lebih siap, yuk pahami 5 kategori utama pertanyaan interview yang paling sering ditanyakan oleh HR dan user di dunia IT.

1. Pertanyaan Tentang Diri dan Pengalaman

Ini biasanya pembuka interview. HR ingin mengenal siapa kamu — bukan hanya dari IPK atau sertifikat, tapi juga dari cara kamu bercerita tentang pengalamanmu.

Contoh pertanyaan:

  • Ceritakan tentang diri kamu!
  • Apa kelebihan dan kekurangan kamu?
  • Apa pencapaian terbesar kamu selama kuliah atau magang?
  • Tantangan apa yang pernah kamu hadapi dan bagaimana cara mengatasinya?

Tips:
Gunakan contoh konkret dari pengalaman kuliah, magang, atau proyek akhir. Misalnya, jelaskan bagaimana kamu mengembangkan aplikasi berbasis web atau mengelola tim dalam proyek capstone.

2. Pertanyaan Tentang Perusahaan dan Posisi

Di sini, pewawancara ingin tahu apakah kamu benar-benar paham tentang perusahaan dan posisi yang kamu lamar.

Contoh pertanyaan:

  • Apa yang kamu ketahui tentang perusahaan ini?
  • Mengapa kamu tertarik bekerja di posisi ini?
  • Tools atau teknologi apa yang kamu kuasai?
  • Bagaimana kamu menyesuaikan diri di lingkungan kerja baru?

Tips:
Sebelum interview, pelajari produk dan budaya perusahaan. Kalau melamar posisi Software Engineer, sebutkan stack teknologi yang kamu kuasai, misalnya React, Python, Docker, atau Kubernetes. Tunjukkan bahwa kamu update dengan tren industri.

3. Pertanyaan Tentang Gaji dan Motivasi

Pertanyaan ini mengukur seberapa realistis dan terarah tujuan kariermu.

Contoh pertanyaan:

  • Berapa ekspektasi gaji kamu?
  • Apakah kamu terbuka untuk negosiasi gaji?
  • Apa motivasi utama kamu bekerja di bidang IT?
  • Apa tujuan karier kamu dalam 3–5 tahun ke depan?

Tips:
Jawablah dengan rentang gaji wajar sesuai posisi dan lokasi kerja. Tambahkan motivasi yang berbasis pengembangan diri, seperti:

“Saya ingin berkembang di lingkungan teknologi yang agile dan bisa berkontribusi pada solusi digital yang berdampak luas.”

4. Pertanyaan Tentang Sikap dan Nilai Profesional

Bagian ini menilai soft skills: komunikasi, kerja tim, integritas, dan manajemen tekanan.

Contoh pertanyaan:

  • Apa arti profesionalisme bagi kamu?
  • Bagaimana kamu menghadapi bug kritis di tengah deadline?
  • Apa yang kamu lakukan saat menerima kritik dari senior developer?
  • Bagaimana kamu menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi?

Tips:
Gunakan metode STAR (Situation – Task – Action – Result) untuk menjawab. Misalnya:

“Saat proyek e-commerce saya error di production, saya tetap tenang, menganalisis log, membuat patch, dan men-deploy ulang dalam waktu dua jam.”

Jawaban seperti ini menunjukkan ketenangan dan kemampuan problem-solving yang dibutuhkan di dunia kerja IT.

5. Pertanyaan Penutup dan Komitmen

Bagian akhir interview menilai kesiapan dan keseriusanmu untuk bergabung.

Contoh pertanyaan:

  • Kapan kamu bisa mulai bekerja?
  • Apakah kamu bersedia ditempatkan di luar kota?
  • Apa kontribusi yang ingin kamu berikan?
  • Mengapa kami harus memilih kamu?

Tips:
Jawab dengan percaya diri. Tegaskan bahwa kamu siap belajar teknologi baru dan beradaptasi. Misalnya:

“Saya terbiasa bekerja dengan tim lintas divisi dan selalu ingin meningkatkan kemampuan teknis saya.”

Kesimpulan

Bagi sarjana komputer, interview bukan sekadar menjawab pertanyaan, tapi juga menunjukkan kemampuan berpikir logis, komunikasi, dan profesionalisme.

Gunakan daftar 50 pertanyaan ini sebagai simulasi latihan pribadi atau bahan diskusi dengan teman seangkatan.
Dengan persiapan yang baik, kamu akan lebih siap menjawab pertanyaan HR — bahkan yang paling tidak terduga.

Bonus Rekomendasi

Ingin tahu cara menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan struktur yang meyakinkan?
Cek seri lanjutan: #KitaPahami: Interview Answering Frameworks – panduan praktis menyusun jawaban profesional yang terdengar natural dan berbobot.


Bagikan artikel ini untuk membantu teman-teman sesama lulusan IT mempersiapkan diri menghadapi interview kerja pertama mereka.
#CareerStarter #SarjanaKomputer #InterviewIT #KitaPahami

Tetap Waras di Tempat Kerja yang Toksik

Artikel ini cocok buat kamu Mahasiswa atau Alumni yang sedang bekerja di Organisasi kerja toksik


Meta Data (untuk SEO)

  • Title (H1): Tetap Waras di Tempat Kerja yang Toksik: Seni Menjaga Diri di Dunia Profesional
  • Meta Description: Lingkungan kerja toksik bisa menguras energi dan semangat. Pelajari cara tetap tenang, fokus, dan berintegritas di tengah situasi sulit—khususnya bagi profesional dan alumni bidang teknologi.
  • Keywords: lingkungan kerja toksik, profesional IT, alumni sarjana komputer, workplace wellness, emotional intelligence, karier teknologi, burnout, mental health at work, resiliency in tech

Tetap Waras di Tempat Kerja yang Toksik

Seni Menjaga Diri di Dunia Profesional, Khususnya bagi Alumni Bidang Teknologi

Di dunia kerja modern—terutama di industri teknologi—kita sering diajarkan untuk menjadi resilient, adaptive, dan problem solver. Namun, jarang sekali ada kelas atau pelatihan yang mengajarkan bagaimana bertahan di tempat kerja yang toksik — di mana drama menyebar lebih cepat daripada notifikasi Slack, dan ego kadang lebih tinggi dari uptime server.

Namun jika kamu pernah melewatinya, kamu tahu satu hal:

Tidak semua pelajaran penting datang dari tempat yang ideal.

Saat Kamu Berhenti Bereaksi pada Setiap “Storm”

Tempat kerja toksik sering penuh “badai kecil”: gosip, politik kantor, tekanan tak realistis, atau atasan yang tidak konsisten.
Awalnya, mungkin kamu ingin melawan atau menjelaskan posisi dirimu. Tapi seiring waktu, kamu belajar bahwa tidak semua badai perlu dihadapi dengan emosi.

Kamu mulai berfokus bukan pada mengubah lingkungan, tetapi menjaga ketenangan batin.
Karena pada akhirnya, energi yang kamu habiskan untuk “membuktikan diri” tidak akan memperbaiki sistem — justru bisa menguras semangatmu.

Apa yang Berubah Saat Kamu Sudah “Kebal”

1️⃣ Kamu Lebih Banyak Mengamati, Lebih Sedikit Bereaksi

Kamu tidak lagi terpancing pada komentar negatif. Kamu mulai melihat situasi secara objektif — seperti menganalisis bug di sistem: identifikasi penyebab, bukan menyerang pelaku.

2️⃣ Kamu Tidak Lagi Mengejar Validasi

Pujian dari atasan atau rekan kerja bukan lagi bahan bakar utamamu. Sekarang kamu fokus pada kualitas hasil, bukan popularitas.

3️⃣ Kamu Berhenti Menjelaskan Kemampuanmu

Kamu sadar bahwa kemampuan tidak perlu dijelaskan berulang-ulang. Biarkan hasil kerja, kecepatan menyelesaikan masalah, dan kualitas kode yang berbicara.

Results are the loudest form of communication.

4️⃣ Kamu Mengerti Kekuatan Diam

Di dunia yang bising, diam bisa menjadi strategi. Tidak semua isu perlu ditanggapi, dan tidak semua percakapan butuh kemenangan.

5️⃣ Kamu Menemukan Tenang di Tengah Kekacauan

Meski deadline menumpuk dan proyek berubah arah, kamu mampu tetap fokus dan rasional. Itulah bentuk growth yang sebenarnya — bukan pada skill teknis, tapi pada ketahanan mental.

Pelajaran yang Tak Diajarkan di Kampus

Menariknya, tempat kerja toksik justru bisa menjadi bootcamp pengendalian emosi.
Ia mengajarkanmu bagaimana tetap profesional tanpa kehilangan empati, bagaimana membatasi diri tanpa menjadi apatis.

Kadang, pelajarannya bukan tentang bagaimana keluar,
tapi bagaimana tetap menjadi dirimu sendiri tanpa terkontaminasi energi negatif.

Refleksi untuk Alumni dan Profesional IT

Sebagai alumni sarjana komputer, kamu terbiasa menghadapi sistem yang error, crash, dan butuh debugging.
Namun, di dunia kerja, bug terbesar sering bukan di kode — tapi di manusia dan budaya organisasi.

Gunakan keahlian analitis yang kamu miliki:

  • Debug emosimu sebelum bereaksi.
  • Patch perilaku tanpa perlu system reboot.
  • Dan yang paling penting, jangan biarkan sistem yang toksik mengubah “source code” dirimu.

Penutup: Tenang Adalah Keunggulan Kompetitif

Lingkungan kerja yang toksik bukan akhir perjalananmu, tapi uji stres versi manusia.
Jika kamu mampu tetap tenang, produktif, dan berintegritas di tengahnya, kamu sudah naik kelas — dari sekadar pekerja menjadi profesional yang matang.

Karena pada akhirnya, di dunia yang penuh kebisingan,

ketenangan adalah keunggulan kompetitif yang paling langka.


Pentingnya Memahami Low Level Programming


Backend Developer dan Architect: Pentingnya Memahami Low Level Programming

Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, kita sering belajar bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti JavaScript, Python, atau PHP. Semuanya terasa praktis dan “langsung jalan”. Namun, di balik kenyamanan itu, ada dunia yang jarang kita sentuh — dunia low level programming.
Pertanyaannya: apakah kita perlu memahaminya?

Jawabannya: ya, sangat perlu.
Terutama jika kamu ingin menjadi Backend Developer yang andal atau bahkan Software Architect di masa depan.

1. Mengapa Low Level Penting?

Low level programming tidak berarti kamu harus menulis semuanya dalam C atau Assembly.
Yang lebih penting adalah memahami bagaimana komputer dan sistem bekerja di bawah permukaan — seperti cara CPU mengeksekusi instruksi, bagaimana memori dialokasikan, atau bagaimana data mengalir melalui jaringan.

Dengan pemahaman ini, kamu tidak hanya “menulis kode”, tapi juga memahami alasan di balik perilaku sistem.
Misalnya:

  • Kenapa aplikasi kamu kadang lambat padahal kodenya sederhana?
  • Kenapa API yang kamu buat sering “timeout” di production?
  • Atau kenapa koneksi database tiba-tiba drop tanpa error jelas?

Semua itu sering kali bukan karena bug di kode — tapi karena kita tidak memahami mekanisme dasar sistem operasi dan jaringan.

2. Kasus Nyata: Ketika Developer Tak Memahami HTTP

Bayangkan kamu membuat API untuk aplikasi mobile.
Setiap kali pengguna membuka halaman baru, aplikasi melakukan HTTP request baru ke server.
Tapi ternyata, kamu tidak mengaktifkan fitur keep-alive di HTTP. Akibatnya, setiap request membuka koneksi TCP baru — yang artinya butuh handshake, waktu, dan resource lebih banyak.

Hasilnya?
Server jadi sibuk mengelola koneksi, bukan memproses data. Aplikasi terasa lambat, dan pengguna kecewa.

Masalah ini tidak akan terjadi jika kamu memahami cara kerja HTTP di level protokol — bagaimana header dikirim, bagaimana koneksi dipertahankan, dan bagaimana caching bisa menghemat bandwidth.

3. WebSocket dan Kesalahan yang Mahal

Kasus serupa juga sering terjadi di aplikasi real-time seperti chat atau notifikasi.
Banyak developer yang belum memahami WebSocket, dan malah menggunakan polling (request berulang setiap beberapa detik).

Akibatnya, server menerima ribuan permintaan tak perlu setiap menit — menghabiskan bandwidth, memperlambat kinerja, bahkan meningkatkan biaya server.

Padahal dengan WebSocket, koneksi hanya dibuat sekali, dan data bisa dikirim dua arah secara efisien.
Perbedaan konsep ini sederhana, tapi dampaknya besar — dan hanya bisa kamu pahami jika kamu mengerti lapisan jaringan di level bawah.

4. Menjadi Developer yang “System-Aware”

Seorang backend developer sejati bukan hanya menulis logika bisnis, tapi juga paham konteks sistem tempat kodenya dijalankan.
Mulai dari:

  • Cara kerja sistem operasi dan manajemen memori.
  • Bagaimana thread dan proses berinteraksi.
  • Dasar komunikasi jaringan seperti TCP/IP, DNS, dan load balancing.
  • Serta cara framework web bekerja di bawah permukaan.

Dengan bekal ini, kamu bisa:

  • Mendiagnosis masalah performa tanpa panik.
  • Mendesain arsitektur sistem yang efisien.
  • Beradaptasi dengan cepat saat berpindah teknologi atau framework baru.

5. Langkah untuk Mahasiswa Fasilkom

Kalau kamu masih kuliah dan ingin memperkuat pondasi low level, berikut langkah-langkah praktisnya:

  1. Pelajari dasar Sistem Operasi.
    Pahami konsep process, thread, scheduling, dan memory management.

  2. Eksperimen dengan bahasa C.
    C membantu memahami bagaimana program berinteraksi langsung dengan hardware.

  3. Pelajari Jaringan Komputer dari sisi praktis.
    Gunakan Wireshark untuk melihat paket HTTP, TCP, atau DNS yang sebenarnya lewat di jaringanmu.

  4. Bangun proyek kecil dari nol.
    Misalnya: buat HTTP server sederhana tanpa framework, atau implementasi mini WebSocket.

Dengan latihan ini, kamu akan mulai berpikir seperti seorang engineer, bukan hanya coder.

Kesimpulan

Memahami low level programming bukan berarti kamu harus meninggalkan bahasa tingkat tinggi.
Tapi dengan memahaminya, kamu akan:

  • Lebih efisien dalam menulis kode.
  • Lebih cepat dalam debugging dan optimasi.
  • Lebih siap saat harus merancang sistem berskala besar.

Jadi, mulai sekarang — jangan hanya fokus pada “framework-nya apa”, tapi juga “bagaimana sistem ini bekerja di bawahnya.”
Itulah langkah awal untuk menjadi backend developer dan arsitek perangkat lunak yang benar-benar tangguh.


Rasa Aman: Kunci Sejati Work-Life Balance


Rasa Aman: Kunci Sejati Work-Life Balance Menurut Simon Sinek

Banyak orang berbicara tentang work-life balance seolah itu sekadar soal waktu — bekerja delapan jam, beristirahat delapan jam, dan sisanya untuk hiburan. Namun, Simon Sinek, seorang pemikir kepemimpinan modern, mengajak kita melihat lebih dalam. Ia berkata:

“We will only have work-life balance when we feel safe at home and feel safe at work.”
— Simon Sinek

Kalimat sederhana ini membawa makna mendalam, terutama bagi kita — mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer — yang sedang mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan di dunia teknologi dan organisasi digital.


1. Lebih dari Sekadar Jam Kerja dan Waktu Istirahat

Sinek ingin menegaskan bahwa keseimbangan hidup dan kerja tidak akan pernah tercapai hanya dengan mengatur waktu.
Yang sesungguhnya kita cari bukanlah time balance, tetapi emotional balance — keseimbangan rasa aman dan tenang di dua tempat utama dalam hidup: rumah dan tempat kerja.

Tanpa rasa aman, setiap jam istirahat terasa tidak benar-benar istirahat. Kita mungkin pulang ke rumah, tetapi pikiran tetap cemas tentang pekerjaan, atasan, atau rekan yang tidak bisa dipercaya. Begitu pula sebaliknya, kita mungkin hadir di kantor atau kampus, tetapi hati masih terbebani masalah dari rumah.


2. Merasa Aman di Tempat Kerja: “Circle of Safety”

Simon Sinek sering mengulang satu konsep penting: “Circle of Safety”.
Ini adalah lingkungan di mana setiap orang merasa dilindungi, dipercaya, dan tidak takut melakukan kesalahan selama mereka bertanggung jawab.

Pemimpin yang baik bukanlah yang menakutkan, tetapi yang menciptakan ruang aman untuk tumbuh dan berinovasi.
Bagi mahasiswa Fasilkom, hal ini relevan sejak sekarang — mulai dari kerja tim dalam proyek kuliah hingga dunia profesional nanti.

Cobalah bayangkan jika di setiap kelompok belajar, semua anggota merasa aman untuk berpendapat, mengakui kekurangan, dan saling membantu. Energi kreatif pasti akan tumbuh jauh lebih cepat daripada dalam kelompok yang dipenuhi rasa takut atau persaingan tidak sehat.


3. Merasa Aman di Rumah: Pondasi Ketahanan Diri

Rasa aman di rumah berarti memiliki tempat untuk memulihkan energi dan menjaga keseimbangan emosi.
Mahasiswa yang hidup di lingkungan penuh tekanan tanpa dukungan emosional cenderung mudah kelelahan mental, meskipun terlihat aktif secara akademik.

Keseimbangan sejati terjadi ketika rumah menjadi tempat “recharge”, bukan sumber tambahan stres. Maka, penting bagi setiap dari kita untuk menjaga komunikasi dengan keluarga, membangun lingkungan pertemanan yang sehat, dan menciptakan “rumah” bahkan di kos atau asrama — tempat yang menenangkan hati dan pikiran.


4. Pelajaran untuk Calon Pemimpin Digital

Sebagai calon pemimpin masa depan di bidang teknologi dan manajemen sistem informasi, kalian akan berhadapan dengan tekanan tinggi, tenggat waktu, dan tanggung jawab besar terhadap tim dan pengguna.

Namun ingatlah: kepemimpinan yang efektif selalu berawal dari empati dan rasa aman.
Pemimpin yang baik tidak hanya mengatur pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya. Ia memastikan timnya merasa terlindungi — bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikologis.

Ketika orang merasa aman, mereka akan bekerja dengan hati, bukan hanya dengan tangan.


Penutup: Keseimbangan Dimulai dari Rasa Aman

Work-life balance bukan tentang melarikan diri dari pekerjaan, tetapi tentang membangun dua lingkungan — rumah dan tempat kerja — yang sama-sama memberi ketenangan dan makna.
Jika kelak kamu menjadi pemimpin, pastikan orang-orang di sekitarmu bisa berkata, “Saya merasa aman bekerja bersamamu.”
Karena dari situlah keseimbangan sejati dimulai.


Refleksi:

Sebelum kamu berusaha menyeimbangkan hidup dan kerja, tanyakan dulu:
“Apakah aku sudah merasa aman — di rumah dan di tempat aku berkarya?”