Home » Articles posted by Webmaster

Author Archives: Webmaster

Awal Mula Lahirnya Baidu, Ini Cerita Lengkapnya

ROBIN Li lahir di Yanhong pada 1968, kota yang terletak di barat daya Beijing. Lahir miskin, namun ia cukup cerdas untuk masuk ke sekolah paling bergengsi di negara itu, Universitas Beijing, tempat dia berkecimpung dalam ilmu komputer.

Namun, saat terjadi demonstrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989 silam, pemerintah China memutuskan untuk menutup kampus tersebut. Setahun kemudian dia mulai berpikir untuk belajar di luar negeri. Saat dia lulus pada 1991, Li siap meninggalkan China. Menurutnya, China adalah tempat yang menyedihkan karena tidak memiliki harapan.

Dia pun mendaftar ke tiga program pascasarjana teratas dalam ilmu komputer di Amerika. Dari 20 lamaran ke berbagai universitas, hanya SUNY Buffalo yang menerimanya. Li masuk ke sana dan mendapatkan gelar PhD ilmu

 

komputer.

Dia kemudian menyelesaikan gelar masternya pada 1994 dan bergabung dengan divisi New Jersey dari Dow Jones & Company. Di perusahaan ini dia membantu mengembangkan program perangkat lunak untuk edisi online The Wall Street Journal. Dia pun terpikat pada era meledaknya teknologi yang terbentuk di Silicon Valley.

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memecahkan salah satu masalah awal industri Internet: memilah informasi. Terobosan datang pada 1996 ketika dia mengembangkan mekanisme pencarian yang dia sebut “analisis tautan”, yang melibatkan penentuan peringkat popularitas Web situs berdasarkan berapa banyak situs web lain yang terkait dengannya.

William I Chang, yang saat itu adalah chief technology officer di Infoseek, bertemu dengan Li di sebuah konferensi dan merekrutnya untuk mengawasi pengembangan mesin pencari. Namun, kisah sesungguhnya Baidu berawal pada musim panas 1998 di Silicon Valley.

Li pada waktu itu sudah bosan di Infoseek. Setahun berikutnya, ia mendirikan perusahaan pencari sendiri di China, menamainya Baidu. Baidu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan perusahaan internet lain: meneror Google dan Yahoo di pasar mereka sendiri.

Dengan pemerintah China yang acap melarang pertumbuhan internet di negaranya, dia pun harus berjuang mengembangkan Baidu. Namun, dengan penduduk China mencapai populasi 1,3 miliar, dan sekira 130 juta di antaranya adalah pengguna internet, maka China menjadi pasar online yang terbesar setelah Amerika.

Baidu berhasil meyakinkan pemerintah China untuk membantu mereka melakukan sensor di situs webnya. Baidu pun mendominasi situs pencari di China karena mendapat dukungan dari pemerintah China dan memblokir Google.

Baidu Besar Bukan karena Google Pergi
Robin Li membantah bahwa sukses Baidu di China saat ini karena pemerintah China mendepak Google dari negara tersebut. Menurut Li, perusahaan mesin pencari yang ia dirikan bisa mendominasi pasar karena kemampuannya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tiongkok.

“Ini harus diluruskan. Karena saya sering ditanya soal hal ini. Dan itu tidak benar,” katanya.

Google Inc memang menghentikan operasi mereka di China daratan pada 2010. Ada dua penyebabnya. Pertama, karena serangan siber yang gencar dilakukan terhadap pengguna Gmail, juga cekcok dengan pemerintah China terkait sensor dari hasil pencarian.

Setahun sebelum Google hengkang itu pun, Baidu sudah mendominasi market sharemesin pencari di Tiongkok sebesar 60%. Sementara market share Google hanya 33%. Baidu memang sangat agresif dalam menghubungkan berbagai layanan offline ke internet.

Misalnya layanan pengiriman makanan hingga pembelian tiket bioskop. Namun, Li menyebut bahwa dirinya tidak pernah tenang dan terus berupaya mengembangkan layanan. Ia selalu yakin bahwa suatu saat akan ada startup yang layanannya dapat segera menggantikan core business Baidu di bidang mesin pencari.

“Suatu hari nanti mesin pencari tidak berguna seiring banyaknya pengguna internet di China menggunakan aplikasi mobile di ponsel dibandingkan peramban web,” katanya.

Dari 620 juta pengguna internet di China, 90% di antaranya memiliki akses ke mobile (data 2015). “Saya selalu mengamati perkembangan startup di China. Mereka bisa membesar dan terus mengikis bisnis Anda, dan menggantikan Anda dengan cepat,” katanya.

Otak di Balik Kebangkitan Baidu
Pendiri Baidu, Robin Li, tidak puas dengan pencapaian Baidu “hanya” sebagai mesin pencari terbesar di China. Fokus barunya adalah bidang baru yang sedang diperebutkan semua raksasa teknologi dunia: kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Investor sangat antusias terhadap hal itu. Pada awal 2017 saham Baidu diperdagangkan senilai USD168. Sekarang sudah meningkat jadi USD270 dan diprediksi menembus USD300. Menurut Li, kecerdasan buatan adalah pasar potensial yang luar biasa.

“Sedangkan Baidu, sejak awal didirikan sangat fokus di riset, juga punya keinginan besar untuk sukses,” imbuhnya. “Setiap perusahaan memiliki DNA-nya sendiri, dan Baidu adalah perusahaan teknologi,” tambahnya.

Menurut Li, Baidu memang sukses pada era desktop, mendominasi mesin pencari di Tiongkok. Namun, pada era mobile, tantangannya jauh lebih rumit. “Pada era mobile Anda harus menciptakan ekosistem/platform sendiri agar orang dapat membuat konten untuk Anda,” sebutnya.

Di sinilah Baidu mendapatkan tantangan dari perusahaan seperti Google dan Apple. Nah, pada era kecerdasan buatan, Baidu kembali melihat kesempatan besar. “Kita telah memasuki era baru, era kecerdasan buatan, dan teknologi menjadi penting lagi,” katanya. “Anda butuh bahasa terbaik untuk memproses teknologi, butuh teknologi pemroses gambar terbaik, teknologi menganalisis data terbaik, dan kami sangat menguasai bidang-bidang itu,” bebernya.

Ketika pengguna mengetikkan kata pencarian atau query, misalnya, Baidu akan mencoba menebak apa maksudnya dan menyediakan jawaban terbaik dari kata pencarian itu. “Nah, itu merupakan bagian dari kecerdasan buatan, di mana komputer dapat memahami manusia dan memberikan jawaban atau layanan tertentu,” katanya.

Baidu menginvestasikan 15% dari pendapatan perusahaan untuk riset dan pengembangan (R&D). Tepatnya senilai USD1,5 miliar. “Mungkin yang terbesar di antara perusahaan China lainnya,” katanya. “Hampir semuanya melibatkan kecerdasan buatan,” ia menambahkan.

 

UI-Unbraw Gelar Konferensi Internasional Ilmu Komputer

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Brawijaya (Unbraw) menggelar konferensi internasional ilmu komputer. Mengingat perkembangan teknologi saat ini sangat pesat sehinga diperlukan acuan yang paten.

Untuk itu, para peneliti duduk bersama dalam sebuah forum International Conference on Advanced Computer Science and Information Systems (ICACSIS) 2016. ICACSIS diselenggarakan pada tanggal 15-16 Oktober 2016 di Universitas Brawijaya, Malang.

Plenary Speakers yang akan hadir antara lain Prof Ramjee Prasad (Aalborg University, Denmark), Prof Jim Foster (Keio University, Japan), dan Dr Huang, Ye-Nun (Academia Sinica, Taiwan). Topik yang akan dibahas mencakup aspek Computer Architecture and High Performance Computing, Pattern Recognition, Information Retrieval, Computer Networks, Distance Learning, E-Government dan IT Governance.

Hadir sebagai salah satu pembicara kunci yaitu Stephane Bressan yang merupakan Associate Professor di jurusan ilmu komputer The School of Computing (SoC) of the National University of Singapore (NUS). Dia adalah koordinator Electronic Commerce Laboratory di SoC.

Bressan mengatakan, komunitas informasi global bisa menjadi ancaman maupun jalan keluar bagi keragaman budaya. Arah mana yang akan dipilih ada di tangan dan kepala para profesional serta peneliti.

“Bagaimana mereka bisa mendesain sistem dan teknik yang memungkinkan terjadinya pertukaran, di samping tetap menjaga keberagaman,” kata Bressan.

ICACSIS 2016 merupakan forum internasional yang menghadirkan para peneliti, profesional, mahasiswa serta pakar di bidang ilmu komputer dan sistem informasi, yang berasal dari dalam dan luar negeri. Beberapa negara yang turut berpartisipasi dan hadir dalam ICACSIS 2016, yaitu Jepang, Inggris, Jerman, India, Korea Selatan, Amerika Serikat, Australia, Singapore, Iran, Taiwan, New Zealand, Denmark, Czech Republic, dan Indonesia.

ICACSIS 2016 menjadi wadah bagi peserta untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, inovasi dan perkembangan informasi terkini. Baik itu mengenai metodologi, teori, aplikasi dalam semua aspek system engineering, human machine interaction, interface dan berbagai aplikasi bermanfaat lainnya.

Panitia konferensi menerima sebanyak 185 makalah dari beberapa negara. Setelah melalui tahap seleksi dan review ketat oleh committee ICACSIS, diperoleh 96 paper yang lolos seleksi untuk dipresentasikan. ICACSIS 2016 terbagi menjadi dua acara utama, yakni Plenary Speech dan Parallel Sessions.

Makalah yang diterima di ICACSIS 2016 akan diindeks oleh SCOPUS sebagaimana ICACSIS tahun-tahun sebelumnya. Konferensi ICACSIS 2016 didukung oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya sebagai co-host ICACSIS 2016.

Dukungan teknis diberikan oleh The Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Indonesia Section dan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komputer Indonesia (APTIKOM). Opening ceremony ICACSIS 2016 dibuka secara resmi pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016 pkl 09.00 WIB oleh Mirna Adriani Ph.D (Dekan Fakultas Ilmu Komputer UI) dan Dana Indra Sensuse Ph.D (Ketua Umum ICACSI

sumber dari : https://nasional.sindonews.com/read/1147632/144/ui-unbraw-gelar-konferensi-internasional-ilmu-komputer-1476612417

Cara Cerdas Mencegah Penyebaran Hoax di Media Sosial

Jakarta – Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan membahayakan generasi muda.

Menyadari hal tersebut, sudah banyak kelompok yang secara proaktif mengajak masyarakat agar lebih cerdas menggunakan media sosial. Pemerintah juga berupaya untuk mengurangi penyebaran hoax dengan cara menyusun undang-undang yang di dalamnya mengatur sanksi bagi pengguna internet yang turut menyebarkan konten negatif. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika turut mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital, salah satunya melalui ‘Mudamudigital’.

Mudamudigital merupakan wadah bagi para generasi muda untuk berbagi ilmu dengan para pakar literasi digital Indonesia. Para peserta juga dapat ‘curhat’ kepada para pakar tentang apa saja yang mereka hadapi di dunia digital pada ‘zaman now’.

Tujuan utama dari Mudamudigital ialah membentuk generasi muda Indonesia agar mempunyai kecerdesaan literasi digital yang tinggi. Sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh berita-berita hoax yang dapat melunturkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Teknologi Herry Abdul Azis mengatakan internet telah membuat informasi berkembang lebih jauh. Dalam hitungan jam, satu topik bisa berkembang lebih luas.

“Misalnya saja berita yang berkembang soal registrasi SIM Card telah berkembang sangat jauh. Dalam hitungan jam, berapa hari, berita berkembang luas, bahkan ada yang menjadi hoax. Masuk ke ranah-ranah lain, seperti untuk penyadapan dan lain-lain,”kata Herry dalam acara Literasi Cerdas Bermedia Sosial yang digagas Mudamudigital di Kota Bandar Lampung, Jumat (3/11/2017).

Hoax tersebut sangat viral, padahal tidak ada hubungannya. Baru hitungan hari saja sudah berubah. Padahal, hal tersebut tidak benar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Herry menjelaskan berita hoax soal registrasi SIM Card juga mempengaruhi masyarakat. “Diperkirakan sampai 41% orang terpengaruh,” katanya.

Lalu, bagaimana meminimalisir berita hoax yang bertebaran saat ini?

“Muda mudi digital jangan mudah percaya dengan informasi yang berseliweran. Cek kebenarannya,” kata Herry. Selain itu, dia mengimbau agar tidak membaca sesuatu hanya sepotong-sepotong.

Sosialisasi Literasi Cerdas Bermedia Sosial di Lampung, Jumat (3/11/2017) / (Foto: Kementerian Komunikasi dan Informatika)

Dalam kesempatan yang sama, Septiaji Eko Nugroho selaku Inisiator Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan Ketua Masyarakat Indonesia anti-hoax menjelaskan bahwa orang Indonesia kerap percaya pada hoax kesehatan dan keuangan. Karena itu, tak mengherankan jika ribuan orang kerap jadi korban investasi bodong.

“Kejadian tersebut terjadi karena orang Indonesia kurang edukasi literasi digital. Kampanye publik dapat digalakkan untuk menangkal hoax,” katanya.

Menurut Septiaji, keluarga adalah garda terdepan untuk mencegah hoax. Orangtua harus aktif saat anak mengakses media sosial. Di sisi lain, seluruh pihak juga terlibat aktif menangkal hoax, tak terkecuali para pemimpin agama.

“Seringlah menulis hal-hal positif tentang lingkungan sekitar. Jangan diam dan sibuk pada urusan hal-hal buruk. Tingkatkan level pemikiran kritis sebagai upaya memerangi informasi yang keliru,” katanya.

Sementara itu, Kanit V Subdit III Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKBP Purnomo mengingatkan agar generasi muda tidak sembarangan membagikan sesuatu di internet, misalnya informasi menyinggung orang lain.

“Menyebarkan atau memberikan informasi buruk di internet bisa terancaman pidana pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE. Cek dulu informasi yang ingin disebarkan, apa dapat merugikan orang lain, jangan sampai bersinggungan dengan hukum,” katanya.

Menyadari bahwa saat ini era e-Commerce sedang bertumbuh, Purnomo tak lupa memberikan tips agar anak muda terhindar dari penipuan. Dia menyarankan, sebelum membeli sesuatu dari internet, sebaiknya kita memilih online shop yang terverifikasi dan bisa dipercaya.

“Walaupun harganya mungkin sedikit lebih mahal. Kalau ada yang menawarkan harga lebih murah, tapi reputasi belum teruji, harus diwaspadai,” katanya.

Untuk pengguna internet yang sudah terlanjut menjadi korban penipuan, Purnomo menyarankan agar mereka membuat laporan kepada Kepolisan. Berbekal bukti laporan dari kepolisian, korban bisa meminta agar bank membekukan sementara rekening pelaku penipuan.

“Rekening pelaku bisa ditahan, penundaan transaksi sebentar. Sesuai UU pencucian uang, bank dapat melakukan penundaan transaksi bila ada transaksi yang mencurigakan. Ini kan teman-teman transaksi melalui transfer, jadi bisa dilihat,” katanya.

Perlu diketahui, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta.

Meningkatnya perkembangan pengguna internet di Indonesia memiliki dampak positif antara lain semakin meningkatnya pertumbuhan e-Commerce di Indonesia. Namun, di saat yang bersamaan, pertumbuhan pengguna yang massif ini membuka ruang yang lebih luas untuk meningkatnya radikalisme digital, jejaring teroris online, berita palsu, ujaran kebencian dan cyberbullying.

Sosialisasi Literasi Cerdas Bermedia Sosial di Lampung, Jumat (3/11/2017) / (Foto: Kementerian Komunikasi dan Informatika)

Hal ini terlihat dengan begitu banyak informasi hoax. Berita-berita hoaxyang menyesatkan beredar lewat berbagai jalur digital, termasuk situs media online, blog, website, media sosial, email, dan aplikasi pesan instan.

Menurut The Jakarta Post, sejak tahun 2008, 144 orang telah diproses hukum karena melanggar Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terutama terkait dengan berita palsu dan ujaran kebencian di media sosial. Selain itu, hingga tahun 2016, terdapat sekitar 773.000 situs yang diblokir oleh Kementerian Kominfo dan mayoritas situs ini merupakan situs pornografi. Tindakan pemblokiran ini menunjukkan bahwa masih terdapat konten negatif di internet.

Menyebarnya hoax di internet ini sebenarnya bukan problem yang hanya terjadi di Indonesia. Bahkan, Amerika Serikat sekalipun mengalami masalah serius terkait penyebaran hoax di media sosial, terutama Facebook dan Twitter.

Tindakan sederhana apa yang bisa kita lakukan agar tidak ikutan menyebarkan hoax? Berikut tips dari Septiaji Eko Nugroho.

Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Berita yang berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

Ikut serta grup diskusi anti-hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti-hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, warganet bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Apabila masih kurang? Tips dari The Washington Post di bawah ini bisa juga dijadikan sebagai pelajaran:

1. Banyak orang sebenarnya tidak membaca konten yang mereka bagikan. Mereka hanya membaca judulnya.

Untuk mencegah Anda sendiri menjadi penyebar hoax, hilangkanlah kebiasaan membagikan konten tanpa membaca isinya secara menyeluruh.

2. Orang sering tidak mempertimbangkan legitimasi sumber berita

Situs berita hoax bisa muncul tiap saat, tetapi kita sebenarnya bisa menghindari jebakannya dengan bersikap lebih hati-hati melihat sebuah situs. Sikap hati-hati ini juga berlaku bagi narasumber yang mereka kutip, minimal dengan mencari referensi lanjutan di Google atau situs lain yang sudah terpercaya.

3. Orang cenderung mudah kena bias konfirmasi

Orang punya kecenderungan untuk menyukai konten yang memperkuat kepercayaan atau ideologi diri atau kelompoknya. Hal ini membuat kita rentan membagikan konten yang sesuai dengan pandangan kita, sekalipun konten tersebut hoax.

Jika Anda membaca berita yang betul-betul secara sempurna mengukuhkan keyakinan Anda, Anda harus lebih berhati-hati dan tidak buru-buru memencet tombol share.

4. Orang mengukur legitimasi konten dari berita terkait

Sebuah berita belum tentu bukan hoax hanya karena Anda melihat konten terkait di media sosial. Jangan buru-buru menyimpulkan lalu ikut membagikannya. Kadang-kadang, hoax memang diolah dari berita media terpercaya, hanya saja isinya sudah diplintir.

5. Makin sering orang melihat sebuah konten, makin mudah mereka mempercayainya

Hanya karena banyak teman-teman Anda share berita tertentu, bukan berarti berita tersebut pasti benar. Alih-alih langsung mempercayai dan membagikannya, Anda bisa mencegah ikut ramai-ramai termakan hoax dengan melakukan pengecekan lebih lanjut.

sumber dari : https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-3716300/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial?_ga=2.44085476.1771318588.1510107272-1839623678.1487174321

 

 

Aplikasi Besutan Anak UI, Mudahkan Menghafal Al-Quran

JAKARTA – Muhammad Faris, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia (UI) angkatan 2013 membuat sebuah terobosan yang dapat dimanfaatkan bagi banyak umat. Ia menciptakan aplikasi bagi siapapun agar lebih mudah menghapal Al – Quran.

Juara 2 nasional Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) MN 2015 Cabang Desain Aplikasi Quran ini juga merupakan penerima beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta. Berawal dari kisahnya dua tahun lalu yang memutuskan untuk mulai menghapal Al – Quran. Saat itu ia kesulitan untuk menghapal Al – Quran.

“Ternyata dugaan saya benar dan itu susah. Tidak menyerah di situ, saya mulai coba membuat aplikasi yang bisa membantu saya untuk menghapal,” katanya di Depok, Senin (20/6/2016).

Idenya, kata Faris, untuk mulai menghapal ia perlu mengetahui ayat mana yang sudah dan yang belum dihapal. Ide tersebut diimplementasikan dalam platform website di Quran.community. Namun belum ada hasil yang signifikan saat itu.

“Tetapi ada hal unik yang saya dapatkan dari pengembangan aplikasi tersebut. Ada pengguna yang begitu aktif menambah hapalannya di aplikasi itu, dan ternyata ia telah memiliki hapalan hampir setengah Al-Quran. Saat itu saya menyadari bahwa ada hal mendasar perlu diperbaiki terlebih dahulu sebelum memulai menghapalkan Al–Quran, ya, bacaan kita harus baik dan benar,” katanya.

Menurutnya tidak ada cara lain untuk meningkatkan kemampuan bacaan, selain meningkatkan interaksi membaca Al–Quran. Sehingga ia mencoba untuk mulai membacanya. Kendala yang dialaminya, seringkali ketika belum lama membaca Al–Quran, pikiran kita sudah berpindah pada hal yang lain.

“Saya bertanya pada diri sendiri, “Gimana ya biar saya bisa fokus?”. Akhirnya muncul ide untuk membuat aplikasi Al–Quran dengan ayat yang bergerak otomatis dari kiri ke kanan agar saya bisa fokus pada ayat tersebut dan terus membaca agar tidak tertinggal,” ujarnya

Setelah menggunakan selama sekitar 6 bulan, Faris merasa sudah waktunya untuk menjadikan aplikasi ini dapat digunakan oleh banyak orang. Aplikasi ini dapat diakses melalui http://quranchallenge.id. Aplikasi ini memiliki konsep ayat yang bergerak dan nantinya akan ada target-target seperti games yang dapat diselesaikan.

Menurutnya setiap hal untuk menjadi baik itu butuh proses. Aplikasi ini mencoba membantu memulai proses tersebut dari meningkatkan interaksi dengan Al–Quran, hingga nantinya tiap pengguna mampu memahami arti, makna, serta dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan dan menjadi bermanfaat bagi banyak orang.

sumber dari : https://autotekno.sindonews.com/read/1118263/143/aplikasi-besutan-anak-ui-mudahkan-menghafal-al-quran-1466425659

Ini Ciri-ciri Komputer Windows yang Terinfeksi Ransomware WannaCry

Akhir pekan lalu, dunia internet dihebohkan dengan beredarnya virus ransomware bernama WannaCry. Tak kurang dari 150 negara di seluruh dunia kini terjangkit virus ransomware WannaCry yang doyan menyandera data pengguna.

Di Indonesia, program jahat itu mulai menyerang beberapa rumah sakit sejak Jumat (12/5/2017). Tercatat dua rumah sakit, Dharmais dan Harapan Kita yang kerepotan karena data dan sistem dikuasai WannaCry.

Penyebaran WannaCry didapuk sebagai serangan cyber terbesar yang pernah ada. Pemerintah Indonesia pun sudah bereaksi dengan mengumumkan berbagai langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah peredaran ransomware WannaDry.

Ransoware WannaCry mengincar komputer yang menggunakan sistem operasi Windows lawas dan tidak rutin di-update. Sebenarnya, Microsoft telah mengeluarkan patch atau penangkal WannaCry pada Maret lalu melalui update OS tetapi banyak pengguna yang lalai.

Nah, apa tanda-tanda sebuah komputer telah terinfeksi virus ransomware WannaCry. Seperti dikutip KompasTekno dari HackerNews, tanda yang paling kentara adalah munculnya pop-up window yang berisi pesan bahwa data pemilik komputer telah dienkripsi, seperti yang bisa dilihat di foto di bawah ini.

Tanda komputer Windows telah terinfeksi ransomware WannaCry.(hand-out)

Jendela tersebut juga menampilkan informasi bagaimana mengembalikan data dan cara membayar uang tebusan untuk pembuat WannaCry. Terdapat juga hitung mundur batas waktu pembayaran uang tebusan dan tenggat waktu penghapusan dokumen jika tebusan tidak dibayar.

Tampilan sistem antrean pasien sebuah rumah sakit di Jakarta yang terjangkit malware Ransomware, Sabtu (13/5/2017).(hand-out)

Prompt dan notifikasi tersebut bahkan ada versi bahasa Indonesia karena WannaCry bersifat multi-lingual untuk menyasar korban di berbagai negara. Ada lebih dari 25 bahasa yang bisa ditampilkan oleh Ransomware ini.

Setelah itu, wallpaper Windows yang terjangkit akan diganti oleh sang virus dengan tulisan berjudul “Ooops, your important files are encrypted” dengan latar belakang hitam.

Tampilan wallpaper tersebut dapat dilihat dari gambar di bawah ini.

Tampilan wallpaper dari komputer Windows yang terjangkit ransomware WannaCry.(hand-out)

Setelah itu, data yang tersimpan di komputer yang terinfeksi tidak dapat diakses. Bahkan sekadar untuk melihat atau membaca isinya, bukan mengubah datanya.

Sampai saat ini, belum ada solusi untuk menyelamatkan data tersebut kecuali dengan membayar tebusan sebesar Rp 4 juta.

Jika tidak sudi membayar, yang hanya bisa dilakukan adalah melakukan backup data yang terenkripsi tersebut ke media penyimpanan lain dengan harapan ada yang menemukan kunci enkripsi di suatu hari.

Tanda-tanda komputer yang terinfeksi ransomware WannaCry juga bisa ditonton di dua video yang dibuat oleh pakar keamanan cyber dan pendiri Hacker House, Matthew Hickey.

sumber dari : http://tekno.kompas.com/read/2017/05/15/11302917/ini.ciri-ciri.komputer.windows.yang.terinfeksi.ransomware.wannacry

BERITA TERBARU